Event Penutup Tahun 2016; Chocodays

15391375_10211902600983435_6182828355955607538_o

 

 

 

 

Kali ini kita akan mengulas tentang sebuah event yang baru saja diselenggarakan di Surabaya hari sabtu dan minggu 11-12 Desember lalu… yang temanya berhubungan erat dengan dunia distopia (dunia fiktif dimana masa depan digambarkan masyarakatnya memilki karateristik yang low life)…

 

Mari langsung saja kita simak ulasannya berikut ini!

 

Event tahunan festival pop culture jepang Chocodays 2016 telah selesai digelar pada tanggal 10-11 Desember di Surabaya. Pada gelaran ke-6 nya ini, Chocodays yang sebenarnya merupakan singkatan dari Comic Hobby and Cosplay kembali menghadirkan sajian festival dengan tema yang baru dari tahun sebelumnya.

Diselenggarakan selama dua hari, Chocodays mengadakan rangkaian acara dengan banyak kompetisi, yaitu AniSong, Dance, Digital art, Voice Act, Photography, dan tentu saja Cosplay.

Jika pada tahun 2015 lalu event Chocodays bertemakan “Univarsity” dan sesuai tema mengambil lokasi di Balai Pemuda Surabaya, kali ini event Chocodays bertemakan CYBERPUNK  mengambil lokasi di lantai 2 gedung Marvel City Mall Surabaya. Dikatakan oleh pihak panitia penyelenggara, acara ini sesuai dengan konsep tema acaranya, mascot Chocodays pun didesain ala-ala cyberpunk seperti pada gambar berikut;

 

Sebelum membaca paragraph selanjutnya, lebih baik kita memasang masker dulu…

 

Mengenai tema CYBERPUNK, berikut ini sedikit informasinya berdasarkan dari internet XD…… Cyberpunk merupakan sebuah sub-genre dari science fiction yang menceritakan sebuah masa yang mana teknologi sudah sangat maju (futuristik) namun terdapat kesenjangan sosial yang begitu drastis dimana kehidupan makhluk-makhluk didalamnya sangatlah berbeda dari yang dibayangkan seperti bumi yang dikuasai oleh robot sedangkan manusia menjadi budak, kota yang dikuasai oleh pasukan kejahatan, masyarakat miskin, dan lain sebagainya. Biasanya, Cyberpunk ini banyak dijadikan tema  dalam game dan film-film science fiction popular di Holywood, bahkan di Jepang. Contohnya saja film Warcraft, Blade Runner, Ghost In The Shell,  Metal Gear Solid, Final Fantasy VII, dan lain sebagainya.

 

 

Tema pada venue event ini terlihat beberapa dekorasi interior area yang diharapkan oleh panitia mampu menampilkan kesan Cyberpunk, seperti yang terlihat pada langit-langit atap gedung berikut;

Disini saya memiliki kesempatan untuk menghadiri acara ini pada pagelaran hari keduanya pada hari Minggu. Berangkat sejak dini hari bersama teman-teman komunitas Cosplayer Tasuki (Tulungagung Daisuki) naik bus dari Tulungagung – Surabaya, kita bisa melihat secara langsung event ini. Kami tiba di venue sekitar pukul 09.30 pagi.

seperti inilah gambaran depan venue pada pagi hari itu….masih sepi….

Biaya tiket 25k, kita masuk ke “dunia distopia” Dan inilah serba-serbi yang ada pada Chocodays hari ke-2….

saya narcis didepan gate dulu ya….hehehehe XD

Ini adalah pemandangan yang kita lihat ketika memasuki area event….

 

Harus antri dahulu untuk bisa masuk kedalam dan mendapatkan stemple seperti berikut

 

 

 

Terdapat berbagai stand-stand dari komunitas-komunitas jejepangan yang menjual berbagai pernak-pernik item khas bernuansa pop culture Jepang….

 

 

 

Pada saat saya berada di dalam venue, panggung utama dari Chocodays 2016 ini sedang menampilkan kompetisi final dari Dance Cover. Berikut ini beberapa tampilan dan foto dari beberapa group dance cover yang berhasil saya abadikan…..

 

Pada kompetisi Dance Cover ini, para peserta diberi penilaian oleh 3 orang juri, yaitu;

Setelah semua penampilan dari peserta Dance Cover selesai dinilai, giliran kompetisi selanjutnya yaitu kompetisi Voice Actor yang mana disini para peserta berlomba menampilkan kemampuannya menjadi seorang dubber yang memberikan dubbing suara pada cuplikan animasi yang ditampilkan di layar lebar. Pada kompetisi ini juri yang memberikan nilai adalah orang-orang yang telah dikenal dalam dunia dubbing di Indonesia. Mereka adalah…..

Pada saat beliau-beliau ini naik ke atas panggung, mereka memperkenalkan diri dan melakukan dubbing….sungguh keren sekali^^

Selain memberikan penilaian kepada para peserta Voice Actor, mereka juga memberikan komentar atas penampilan yang telah ditampilkan oleh peserta dan juga saran-saran yang membangun sebagai bahan evaluasi peserta untuk terus mengembangkan diri agar nantinya bisa lebih baik penampilannya.

Setelah semua peserta tampil, para juri tersebut memberikan sedikit ilmunya kepada semua yang hadir disana bahwa untuk menjadi seorang dubber itu harus memiliki keberanian mencoba berbagai karakter suara karena ini bisa menjadi lahan pekerjaan jika benar-benar memiliki kemauan untuk belajar teknik-teknik pengisi suara yang baik. Dasar utamanya adalah mengenal teknik penggunaan microphone dan penjiwaan karakter, serta mampu mengenali karakter suara yang dimiliki…. *plok-plok-plok* XD

Daaannn…….saya berhasil berbincang secara langsung dengan salah satu juri, yaitu mbak Dian Ross yang merupakan seorang penerjemah bahasa anime-anime terkenal yang kita ketahui seperti Doraemon, Naruto, Detective conan yang tayang di Indonesia…

*Terima kasih atas waktunya….. :’) Sensei sangat ramah sekali… Arigatou Gozhaimasu…..^^*

 

Setelah kompetisi Voice Actor, satu lagi kompetisi yang bisa saya saksikan adalah Cosplay Team Competition. Pada kompetisi ini jurinya ada 5 orang. Mereka yaitu;

Mereka juga memberikan komentar dan penilaiannya kepada para team cosplay yang bertanding….

 

Dalam sebuah event atau festival jejepangan ada satu unsur yang akan membuat event tersebut kurang menarik bila sepi dari kehadiran salah satu unsur ini karena unsur ini memiliki daya tarik tersendiri dalam event tersebut. Apakah itu?

Tentu saja adalah para cosplayer yang berdandan segala rupa menyerupai karakter-karakter yang biasanya kita temui dalam anime….tidak akan lengkap rasanya hadir di sebuah event jejepangan bila tidak berfoto dengan mereka.

Dengan tema Cyberpunk yang telah berani diambil sebagai konsep acara, tentu saja panitia telah bekerja keras untuk mencoba menampilkan konsep tampilan event yang secara visualisasi diharapan memiliki keunikan yang berbeda dari event-event biasanya. Meskipun, seperti yang telah kita ketahui, banyak isu dan komentar negative yang beredar setelah event Chocodays ini digelar. Pengunjung yang datang ke acara kebanyakan merasakan kekecewaan yang luar biasa terhadap venue acara karena jauh dari ekspektasi yang diharapkan. Mengambil tempat pada bagian gedung Mall yang belum jadi, membuat lokasi acara terlihat tidak memadai. Selain itu, banyak debu yang beterbangan yang menganggu pernafasan karena lantainya yang masih seperti berupa semen. Ditambah lagi dengan panasnya ruangan meskipun di beberapa titik venue terdapat AC portable namun masih saja tidak bisa menghalau panasnya lokasi. Karena hal itulah yang membuat banyak orang memakai masker dan beberapa stand atau booth terlihat kosong, serta sepinya pengunjung dibagian dalam venue.

 

Petugas acara pun sepertinya juga harus bekerja ekstra dengan menyiram air di beberapa titik lokasi supaya bisa mengurangi debu-debu yang mengganggu. Dan inilah kenyataan yang ada dalam serba-serbi Chocodays 2016 Marvel City Surabaya. Semua komentar serta kritik dari para pengunjung mengenai acara yang telah tersebar luas di sosial media semoga bisa dijadikan bahan evaluasi bagi pihak panitia dan event organizer untuk membuat event yang lebih baik lagi di Chocodays tahun depan. Segala kekurangan-kekurangan yang ada semoga bisa diperbaiki agar kesan yang “mengerihkan” mengenai Chocodays tahun ini tidak menjadi trauma bagi para pecinta pop culture Jepang untuk datang pada event Chocodays selajutnya.

 

Akhir kata, demikian ulasannya mengenai Chocodays 2016……

Terima kasih telah membaca tulisan saya… *Bow*

Sayonara~~~~~~ J J

 


 

Writer : Evy, seorang penikmat event.
Editor : @tomu811

 

 

*PS: jangan lupa memberikan komentar mengenai apa yang kalian pikirkan terhadap event dan ulasan saya ini di kolom komentar…Arigatou~

 

Leave Comments

comments